The Chaos of Pandemic Worldview On Several +62 Citizen (Kekacauan Cara Pandang Menghadapi Covid-19 Pada Beberapa Warga +62)
Oleh: Gumilar S
Dunia internasional mulai menyoroti negara indonesia dalam menghadapi covid, menurut The New York Times indonesia menjadi epicentrum covid di Asia setelah di india, data terakhir yang dikutip dari Kompas.com Sabtu (24/7/2021) malam, kasus Covid-19 di Indonesia berjumlah 3.127.826 dari angka tersebut Indonesia masuk urutan ke-14 sebagai negara dengan kasus infeksi corona terbanyak di Dunia . Ditengah kegopohan pemerintah indonesia dalam menghadapi covid 19 beberapa masyarakat indonesia masih mengabaikan protokol kesehatan. Mereka berpandangan bahwa setiap orang sudah dituliskan takdirnya, dia terkena covid 19 atau tidak, jika sudah takdir terkena Covid 19, ya terkena, sehingga mengabaikan himbauan yang dianjurkan oleh pemerintah seperti menjaga jarak , memakai masker dan lain-lain. Mereka bersikap pasif dan mengikuti saja apa kehendak Allah SWT atas dirinya. Kemudian fenomena mereka lebih takut kepada Tuhan daripada Corona. Hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor peningkatan angka kasus harian covid 19 disamping banyak faktor lainya juga.
Menurut Akmal Sjafril dalam artikelnya yang berjudul “ Jadi Kita Kembali Pada Jabariyyah?” menjelaskan bahwa manusia harus takut kepada Allah SWT. Namun itu bukan berarti dia harus hidup tanpa perhitungan dan menantang setiap bahaya. Kita hindarkan bayi kita dari asap rokok dan tidak kita ijinkan anak-anak kita bermain di pinggir jurang, meskipun kita tahu kematian ada jadwalnya. Ya, karena masalahnya memang bukan Cuma soal mati atau tidak mati. Kalau anak kita dibesarkan di tengah kepulan asap rokok sejak bayi, misalnya, bisa saja ia tumbuh besar, namun tidak dengan kesehatan paru paru yang baik. Yang jatuh kejurang juga belum tentu mati; bisa jadi hanya cacat seumur hidup atau lumpuh selamanya. Di titik ini .Anda perlu berpikir bukankah tubuh ini juga amanah dari Allah SWT? Kalau ia dibiarkan rusak begitu saja, alias tak dijaga dan dirawat. Bagaimana kelak kita akan mempertanggung jawabkanya ?
Taqdir yaitu mengakui buruk dan baik, sakit dan senang tidaklah akan terjadi kalau tidak dengan izin Allah. Kaum muslimin bukanlah kaum jabariyah atau fatalist yang tidak mengakui adanya ikhtiar pada hamba, hanya kepada tuhan semata sehingga lemah hati dan putus asa. Tidak pula mereka kaum qadariyah, yang mengatakan bahwasanya tidak ada hubungan Tuhan dengan segala perbuatan yang dikerjakan oleh anak Adam, melainkan tergantung pada diri anak Adam
Buya Hamka mengatakan seorang muslim haruslah” Mereka tegak ditengah tengah. Mereka berusaha dan berikhtiar, serta percaya kepada Tuhan. Bahwa Tuhan akan senantiasa akan memimpin kepada jalan yang baik. Senantiasa akan memberi petunjuk kepada kebenaran. Dia percaya bahwa sebab senantiasa bertali dengan musabab. Digalikan bandar, maka mengalirlah air. Ditanamkan biji, tumbuhlah pohon, dan dari pohon itu kelak timbulah buah. Dari perniagaan diperoleh untung. Dari kemalasan timbullah miskin. Dan mereka yakin pula bahwa sebab itu tidak pula ada harganya kalau tidak disertai dengan “Inayah Tuhan”, yakni pertolongan dan pimpinan-Nya. Sebab ditangan-Nya-lah terpegang kekuasaan pada segenap langit dan segenap permukaan bumi
Kalau hanya percaya pada diri sendiri, Hamka menjelaskan kembali, tidak ada pertalian dengan kepercayaan akan kekuatan yang lebih tinggi, maka pada permulaanya belumlah terasa kelemahan . tapi nanti pada akhirnya, diujung perjalanan akan timbulah keinsafan bahwasanya tidaklah segala yang dituju selalu tercapai melainkan ketentuan Tuhan jugalah yang terjadi.
Peneliti Institute For Study Of Islamic Thought and Civilization , Syamsudin Arif, menjelaskan bahwa secara histortis pada zaman khalifah umar, pernah suatu ketika beliau bersama rombongan dalam perjalanan menuju syiria mendengar kabar wabah penyakit sedang melanda negeri tersebut. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, beliau memutuskan untuk kembali ke Madinah dan membatalkan kunjungan ke Syiria. Sempat terjadi diskusi beliau dan jendaral Abu Ubaydah yang berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah ? ” Maka khalifah Umar menjawab: “Benar, kita lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain”(na’am nafirru min qadarillh ila qadarillah). Bukankah jika engkau menggembala unta akan memilih tanah yang subur daripada tanah yang tandus?” Argumentasi tersebut berakhir tatkala Abdurhman Bin Awf muncul seraya berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “jika kalian mendengar wabah penyakit melanda suatu negeri, janganlah kalian memasukinya dan jika kalian berada dalam negeri itu, jangan kalian keluar untuk lari daripadanya.”(HR.Bukhari)
Lalu bagaimana
sebaiknya kita menyikapi wabah corona ini ? Ibn Qayim al-Jawziyyah dalam kitab Zadul
Ma’ad ada sembilan langkah yang perlu kita ambil dalam menanggulangi
epidemik dan pandemik, yaitu : (1) hindari dan jauhi apa pun yang membuat Anda
terinfeksi wabah tersebut (tajannub al-asbab al-mu’dhiyah wal bu’du minha) atau
hari ini kita sebut isolasi :Isolate; (2) Jaga aset anda karena itu aset
modal hidup di dunia dan akhirat: take care of your health;(3) Jangan
menghirup udara yang sudah tercemar dan membawa kuman penyakit tersebut (an la yastansyqul hawa’ alladzi qad
‘afina fasada); atau kita biasa kenal gunakan masker: face mask; (4)
jangan mendekat atau berdekatan dengan orang yang sudah terkena penyakit itu
(an la yujawiru al-mardha); Social Distancing; (5) Buang pikiran atau
prasangka buruk, perasaan perasaan negatif dan tetaplah optimis: think
positively; (6) Gabungkan usaha aktif dengan iman dan tawakal kepada Allah:
tidak fatalistik dan tidak pula bersikap angkuh; (7) ambilah keputusaan yang
rasional dengan mempertimbangkan maslahat dan mudarat; (8) Tetaplah berhati
hati, lakukan penjagaan dan pencegahan, dan berlakukan larangan memaparkan diri
kepada resiko infeksi yang membinasakan; (9) lakukan edukasi dan terapkan
sanksi bagi yang melanggar aturan
Syamsudin Arif ,kembali
menegaskan, dalam artikelnya yang berjudul "Perspektif
Islam Tentang Pandemi." untuk mereka yang positif terjangkit tentu
disarankan berobat kepada ahlinya. Terdapat banyak hadist yang memerintahkan
kita untuk berusaha melakukan pengobatan. Pernah datang sekelompok orang
bertanya kepada Nabi SAW, apakah perlu berobat, dan beliau menjawab tegas:”
Wahai hamba Allah, berobatlah kalian! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan
penyakit kecuali diturunkan pula penyembuhnya. (HR Ahmad: Ya ‘ ibadallah
tadaw fa-innallaha lam yadha’da’an illa wadha’a lahu syifa). Menurut Ibn
Qayyim al-Jawziyyah, kalau bisa sembuh dengan nutrisi, tidak perlu menggunakan
obat-obatan (mata amkanat tadawi bil ghidza’la ya’dulu ilad dawa’).
Di samping
langkah-langkah konkret tersebut, para ulama juga menganjurkan kita berdoa
sesuai petunjuk Nabi SAW. Boleh membaca qunut nazilah (mazhab Hanafi dan
Syafi‘i) ataupun shalat khusus untuk menolak wabah penyakit (mazhab Maliki).
Rasulullah SAW pun berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit
kulit, penyakit jiwa, penyakit kusta, dan segala penyakit ganas.” (HR Abu
Dawud). Tidak hanya berdoa, beliau juga diriwayatkan apabila bersin menutup
wajahnya dengan tangan atau kain bajunya sambil menahan suaranya (idza ‘athasa
ghattha wajhahu biyadihi aw bitsawbihi wa ghaddha biha shawtahu).” (HR Ah -
mad, al-Hakim dan at-Tirmidzi). Selain itu, beliau menyuruh kita menutup segala
jenis wadah dan menyumpal kendi (ghatthu alina’ wa awku as-siqa’) tempat penyim
pan - an makanan dan minuman setiap malam untuk menghindari masuknya kuman pe -
nyakit ke dalamnya (nazala fihi min dzalik al-waba’ – HR Muslim)
Menghadapi pandemi
dengan pemikiran yang lebih luas, tidak mempertentangkan antara pendapat ulama
dan saintis merupakan hal yang perlu dilakukan, karena tidak ada dualisme
antara islam dan s pandemi sehingga orang orang yang kita cintai tida menjadi
korban dari tindakan kita. Merujuk pada kelompok yang lebih otoritatif, seperti
Majelis Ulama Indonesia (MUI), adalah salah satu upaya untuk menurunkan bahkan
mencegah kekacauan cara pandang. kemudian membuka kembali lembar lembar sejarah,
mengambil ibrah, baigaimana kaum kaum dahulu menghadapi wabah adalah cara yang
dapat mengembangkan strategi kita dimasa sekarang dalam menghadapi pandemi ini.
Sehingga dapat membantu pemerintah dan diri kita sendiri sebagai bangsa Indonesia dalam
menghadapi musibah Covid-19 .
Daftar Pustaka
A, Fira, Richard P, and Mukitta S. The Pandemic Has
a new Epicenter: Indonesia. Juli Sabtu, 2021.
https://www.nytimes.com/2021/07/17/world/asia/indonesia-covid.html (accessed
Juli Minggu, 2021).
Arif, Syamsudin. "Perspektif Islam
Tentang Pandemi." Republika, 2020.
D, Retia K. Update Corona 25 Juli:
Angka Kesembuhan di Indonesia Meningkat | Varian Delta Menyebar di AS. Juli
25, 2021.
https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/25/101500165/update-corona-25-juli--angka-kesembuhan-di-indonesia-meningkat-varian-delta?page=all
(accessed Juli 25, 2021).
Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta:
Republika, 2020.
Sjafril, Akmal. jadi Kita Kembali
Pada Jabariyyah? Maret 18, 2020.
https://malakmalakmal.com/jadi-kita-kembali-kepada-jabriyyah/ (accessed Juli
Minggu, 2021).



Suhu saya ieu
BalasHapus