Adab dan Pendidikan sebagai Kesatuan Fragmen Pembentuk Peradaban

                                                   Sumber : MuslimHeritage.Com


Globalisasi membawa kita pada zaman dimana segala hal serba instan tanpa tahu bagaimana prosesnya ,teknologi yang canggih memberikan manusia modern seolah olah tak berjarak hingga kadang melupakan orang orang didekatnya,  manusia modern seakan memiliki kekuasaan penuh atas apa yang ada diluar dirinya. Jikapun ada aturan yang membatasi urusannya, mereka modifikasi untuk kepentingan golonganya, mereka ubah untuk memenuhhi hawa nafsunya manusia modern cenderung menganggap dirinya lebih maju dari manusia terdahulu meski sejatinya adab mereka pada sang pencipta, alam dan sesama manusia tidak lebih baik dari manusia zaman dahulu.

Penggundulan hutan untuk kepentingan korporasi dengan cara membakar menyebakan hilangnya ekosistem sampai kematian para hewan didalamnya  dan tak sedikit merenggut nyawa manusia dari balita sampai dewasa, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang mencuri uang-uang yang dibayarkan rakyat melalui pajak seakan sudah menjadi kultur mulai dari elite pusat sampai elit desa, kasus guru yang dibunuh oleh muridnya sampai kasus orang tua yang dipenjarakan oleh anaknya merupakan catatan catatan  adab manusia modern hari ini entah catatan kebanggan atau aib yang harus di sembunyikan.
Makna adab sendiri dalam sabda Nabi Muhamad SAW adalah:

لأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ أَوْ أَحَدُكُمْ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ كُلَّ يَوْمٍ بِنِصْفِ صَاعٍ
(مسند أحمد)
(Jika seseorang mendidik anaknya (menjadikan anaknya beradab), maka itu lebih baik baginya daripada bersedekah setiap harinya setengah sha’) (HR Imam Ahmad)
Sedangkan menurut Syed Naquib Al-Attas  Adab adalah pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”  Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,”

Pada diskusi-diskusi publik tidak sedikit makna adab yang hanya didefinisikan sebagai cara bersopan dan santun saja. Menurut Adian Husaini, jika adab hanya dimaknai sebagai ”sopan-santun”, maka bisa-bisa ada orang yang menyatakan, Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, ”Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya berdasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ’anil  munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Sebagian malah ada yang menganggap, menanyakan identitas agama pada seseorang dianggap tidak sopan. Banyak yang menganggap entang dosa zina, dan dianggap tidak etis jika masalah itu diangkat ke permukaan, sementara masalah korupsi harta bisa diangkat ke permukaan.
Adab merupakan kunci dari peradaban, manusia yang kehilangan adab (loss of adab) akan melampaui segala batasan diri terhadap hubunganya dengan manusia,alam dan sang pencipta.

“Many People have knowledge but they have no adab”

Syed Naquib Al-Attas mengatakan bahwa semua orang memiliki pengetahuan tapi tidak memiliki adab, pada pernyataan tersebut pengetahuan merupakan kunci atau sumber dari perilaku adab. Jika kita telusuri akar dari pengetahuan adalah pendidikan. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan yang baik akan mengantarkan kita pada pengetahuan yang baik dan menjadi manusia yang baik, beradab.

Pendidikan sendiri merupakan suatu sistem dan proses yang melibatkan berbagai komponen yang saling berkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Apabila ada salah satu komponen yang kurang baik, maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai dengan baik pula. Komponen – komponen pendidikan tersebut adalah komponen tujuan, pendidik, peserta didik, alat, lingkungan/ lembaga, kurikulum, dan evaluasi (Buhkari Umar: 2010)

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam peradaban, melalui pendidikan akan tercipta ilmuwan dan para pemimpin yang adil dan beradab. Tanpa pendidikan sebuah peradaban akan mengalami kekacauan dan pada akhirnya manusia tanpa pendidikan akan memenuhi hawa nafsunya saja,membuat manusia tidak beradab. Oleh karena itu pendidikan yang dilakukan dengan benar akan menciptakan kemajuan peradaban, melepaskan umat manusia dari kejumudan dan kejahilan.

Pendidikan pada masa modern ini cenderung bersifat sekularis,artinya banyank pengetahuan yang dicabut dari nilai-nilai ruhnya. Sekularisasi sendiri melibatkan tiga komponen terpadu, “ penolakan unsur transenden dalam alam semesta, memisahkan agama dari politik dan nilai yang tidak mutlak atau relative. Hal tersebut berdampak pada terlepasnya ilmu dari pondasinya sehingga berujung pada kacaunya identitas budaya dan intelektual setiap umat manusia.

Peroses perolehan ilmu pengetahuan secara framework peradaban barat, yang bersifat sekuler, membuat para manusia modern tidak beradab/ biadab. Menurut Al-Attas ilmu yang sifatnya telah bermasalah, sebab ia telah kehilangan tujuan hakiki karena tidak dapat dicerna dengan adil. Akibatnya ia membawa kekacauan dalam kehidupan manusia bukanya keharmonisan dan keadilan: ilmu yang nampaknya besar tetapi tetapi lebih produktif kearah kekeliruan dan skeptisme, ilmu buat pertama kali dalam sejarah, membawa kekacaubalauan pada isi alam semesta: hewan, tumbuhan, dan logam. Artinya manusia keliru menggunakan ilmu pengetahuan yang yang dimilikimya dalam pengaplikasian framework setiap sendi kehidupanya.

Pembentukan proses pengetahuan tersebut membuat framework para pelajar sekolah atau kuliah hanya untuk memenuhi nafsu sosial-ekonominya saja, bukan untuk menaikan kedudukan dirinya disisi Sang Pencipta tapi akhirnya menjadi budak kapitalisme. Tidak hanya itu ketika bekerja mereka yang memiliki gelar Sarjana sampai Profesor, yang artinya memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam bidangnya, tersangkut kasus KKN atau menggerus sumber daya alam tanpa memperhatikan ekosistem lingkungan. Padahal jika dilihat dari kacamata seorang awam seharusnya mereka yang berpendidikan tinggi lebih mengerti adab dan batasan batasan bagaimana seharusnya manusia bersikap pada sesamanya, alam dan sang pencipta.

Nilai nilai adab merupakan inti proses yang harus ditanamkan dalam memperoleh pengetahuan, pendidikan. Maka melaksanakan pendidikan yang sesuai dengan worlview atau cara pandang suatu bangsanya sendiri, sesuai identitas budayanya yang tidak sekuler, adalah cara terbaik untuk mengatasi Loss Of Adab. Sehingga keseimbangan hubungan manusia dengan manusia,alam dan pencipta akan tercipta harmoni dalam peradaban umat manusia.

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, yang menyebutkan:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: International Institute Of Islamic Thought And Civilization, 1993.
Husaini, Adian. Makna Adab Dalam Perspektif Pendidikan Islam (2). Jakarta: Insisist, 2012.
Umar, Buhkari. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, 2010.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Chaos of Pandemic Worldview On Several +62 Citizen (Kekacauan Cara Pandang Menghadapi Covid-19 Pada Beberapa Warga +62)

Manusia Sang Masterpiece Penciptaan Allah SWT

-PERTEMUAN-