Konsep Pendidikan menurut Mohammad Natsir
Sumber: Republika.co.id
Mohammad Natsir dilahirkan pada masa penjajahan belanda, beliau adalah pendiri Dewan Dakwah Islamiyah, Menteri Penerangan dan Pemimpin Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). M Natsir Lahir pada Tanggal 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, buah cinta dari pasangan suami isteri Idras Sutan Saripado, seorang juru tulis kontrolir, dan Khadijah ,Natsir kecil menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di Hollandsche Inlandsche Schoolen (HIS, yang didirikan pertama kali oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1914 untuk memberikan pendidikan dasar yang lebih maju bagi orang Cina dan kaum Bumiputera) padang pada tahun 1923. Kemudiam Natsir melanjutkan pendidikanya di Meer Uitgebreide Lagere Onderwijs (MULO, sekarang Sekolah Menegah Pertama) Padang. Anak Minagkabau yang bercita-cita menjadi seorang sarjana di bidang hukum atau Meester in de Rechten (Mr.) ini kemudian melanjutkan pendidikanya pada Bulan Juli 1927 di Algemene Middelbare Schoolen (AMS, sekarang Sekolah Menengah Awal) Bandung, tapi setelah lulus dari AMS natsir mengubur mimpinya menjadi sarjana hukum, dan arah hidupnya berubah menjadi seorang guru, berkhidmat dalam jalan pendidikan, demi mencerdaskan bangsa Indonesia dan membela Agamanya,IslamMenurut Natsir pendidikan adalah suatu pimpinan jasmani dan rohani yang menuju kepada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya. Maju atau mundurnya suatu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka. Tak ada suatu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak anak dan pemuda pemuda mereka. Bangsa jepang satu bangsa timur yang sekarang jadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran majunya, masih akan terus tertinggal dalam kegelapan, sekiranya mereka tidak membukakan pintu negerinya yang selama ini tertutup rapat untuk orang orang pintar dan ahli ahli ilmu negeri lain, yang akan memberi didikan dan ilmu pengetahuan kepada pemuda pemuda mereka, disamping mengirim pemuda pemudanya keluar negeri mencari ilmu dan pendidikan. Sedangkan Spanyol merupakan suatu negeri dibenua eropa, yang selama ini masuk golongan bangsa kelas satu, jatuh merosot kekelas bawah, sesudah enak dalam kesenangan mereka dan tidak memedulikan pujangga-pujangga bangsa di hari kelak. Tidak mempedulikan didikan bangsa mereka sebagai yang cocok dengan aliran zaman, lantaran itu mereka tinggal tercecer dibelakang bangsa bangsa yang dikelilingnya yang terus bergerak dengan giat dan cepat
Menteri kesayangan Soekarno ini menyebutkan pendidikan yang baik dapat dicapai melalui dua perkara yaitu dengan satu tujuan tertentu tempat mengarahkan pendidikan itu dan satu asas tempat mendasarinya. Dua perkara tersebut dapat tercapai dengan mengetahui tujuan kita hidup di dunia. Menurut firman allah dalam Surat Addzariyat 56 “Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembahKu” sehingga tujuan hidup manusia merupakan memperhambakan segenap ruhani dan jasmaninya kepada allah untuk kemenangan dirinya dengan arti yang seluas luasnya yang dapat dicapai oleh manusia. Menjadi Hamba Allah adalah tujuan hidup kita di dunia dan itulah tujuan pendidikan kita. Tuhan menerangkan dalam Al-Qur’an syarat seseorang berhak menamainya sebagai “hamba Allah”. Dalam Surat Faathir ayat 28 dinyatakan,”Bahwa yang sebenar-benarnya takut kepada Allah itu ialah hama-hamba-Nya yang mempunyai ilmu (ulama). Sesungguhnya Allah itu Maha Berkuasa lagi Maha Pengampun” Hamba Allah ialah orang yang ditinggikan oleh Allah derajatnya sebagai pemimpin untuk manusia. Mereka menurut kepada perintah Allah, dan berbuat baik kepada sesama makhluk, serta menunaikan ibadah terhadap Tuhanya. Perhambaan kepada Allah yang menjadi tujuan hidup dan jadi tujuan pendidikan, bukanlah suatu perhambaan yang memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi perhambaan yang mendatangkan kebahagiaan kepada yang menyembah. Penghambaan yang memberi kekuatan yang memperhambakan dirinya.
Menurut Natsir kita
sebagai umat muslim tidak boleh menyerahkan generasi kepada mereka yang tidak
sehaluan, tidak sedasar, tidak seiman dan tidak seagama dan tidak boleh membedakan antara ilmu barat dan
timur pendidikan barat maupun timur namanya tidak menjadi soal. Timur kepunyaan
allah dan baratpun kepunyaan allah juga. Sebagai mahluk yang bersifat hadist (Baru)
ke dua-duanya barat dan timur mempunyai sisi kurang baik dan yang baik,
mengandung beberapa kelebihan dan beberapa keburukan. Pendidikan barat dan
timur tidak usah dipertentangkan, islam hanya mengenal antagonisme antara hak
dan batil. Semua yang haq kita terima biarpun datangnya dari barat semua yang
batil kita singkirkan walaupun datangnya dari timur .
Sistem pendidikan
seperti yang diberikan di barat yang bersemangat efficiency, supaya
dapat kemenangan dalam perlombaan hidup, dapat diterima jika berdasar sifat
kebaratanya karena seorang islam dilarang melupakan nasibnya di dunia ini dan
dituntut untuik memperjuangkan hidup dengan cara yang halal. Sedangkan, suatu
sistem timur yang memberi didikan, terpisah dari gelombang pergaulan dan
perjuangan manusia biasa, meluhurkan dan
menyucikan kebatinan, tidak harus diterima semuanya pula, kalau hanya karena
sifat ketimuranya, sebab buat seorang penuntut ilmu, hamba allah jasmani dan
ruhani dunia dan akhirat, bukanlah dua barang yang bertentangan yang harus
dipisahkan, melainkan dua serangkai yang harus lengkap-melengkapi dan dilebur
menjadi satu susunan yang harmonis dan seimbang sesuai dengan firman Allah swt
:
“Dan demikianlah kami jadikan kamu suatu umat yang seimbang, adil, dan
harmonis, supaya kamu jadi pengawas bagi manusia dan Rasul jadi pengawas kamu.
. . . . . . .” (Qs. Al-Baqarah: 143)”
Tokoh pendiri
Universitas Islam Indonesia dan Universitas Ibn Khaldun Bogor ini kemudian
menyebutkan bahwa tauhid merupakan landasan tercapainya tujuan hidup manusia.
Tanpa adanya tauhid, betapapun luar biasanya intelektual seseorang tanpa
dilandasi dengan tauhid maka lambat laun akan ambruk terpuruk. Natsir, dalam
capita selecta , menceritakkan Prof Paul Ehrenfest, seorang Guru Besar Ilmu
Fisika, kaum terpelajar, seorang atheist yang membunuh anaknya sendiri dan
membunuh dirinya sendiri. Hal itu dikarenakan mendiang Ehrenfest memiliki
harapan kepada anaknya untuk meneruskan perjuanganya menjadi fisikawan, iya
telah berusaha mengajarinya bahkan membawa anaknya ke dokter terbaik di zamanya,
tapi tetap tidak bisa karena memang anaknya menderita down syndrome. Iya
akhirnya putus asa dan hatinya hancur dan dia iri melihat orang-orang
senantiasa aman dan tentram walaupun musibah menimpa mereka. Dia ingin mendapat
ketenangan dan kedamaian sebagaimana orang memiliki tempat bersandar,
bergantung dan mengadu mempunyai keyakinan dan pegangan dalam hidupnya.
Sebelum Ehrenfest bunuh
diri dia menuliskan surat kepada temanya, Prof. Kohnstamm,’’ Mir Fehlt
das Gott Vertrauen. Religion ist notig. Aber Wem Sie Nicht Mogilch Ist, der
Kann Eben Zugrunde Gehen”,--yang tak ada pada saya, ialah
kepercayaan kepada Tuhan. Agama adalah perlu. Tetapi barang siapa yang tidak
mampu memiliki agama, iya mungkin binasa lantaran itu, yakni bila iya tidak
bisa beragama yang paling mengharukan hati sahabatnya adalah doa
paling akhir : Moge Gott Denen Beistehen, die ich Jetzt So Heftig
Verletze- muda-mudahan Tuhan akan menolong kamu, yang amat aku lukai sekarang
ini. Begitulah gambaran seorang atheist. Seseorang yang pada
hakikatya amat rindu untuk mempunyai Tuhan, tetapi tidak ditemukan dalam
hidupnya. Seolah olah dengan membunuh diri itu dia dapat mencari Tuhan dalam
kuburnya, dan agar bisa lepas dari siksaan ruhani yang amat berat menyiksa di
dunia ini. Ruhnya berkehendak menyembah kepada Tuhan akan tetapi tidak dapat
diperdapatnya. Ia ingin dan rindu hendak mempunyai agama akan tetapi tidak
diperoleh jalan, ini menjadi suatu azab yang di terderita olehnya. Menurut
Natsir itu merupakan contoh kerusakan batin yang berpangkal kurangnya pimpinan
ruhani lantaran ketinggalan memberikan makanan batin dalam didikan dan
terlampau condong kepada pendidikan yang bersifat intelektualistis semata.
Konsep pendidikan yang
ditawarkan Natsir merupakan elaborasi pendidikan yang seimbang dan
komperhensif, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Natsir
menginginkan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi-generasi yang
beriman, berahlak mulia dan berwawasan luas. Karena baginya pendidikan barat
yang dijalankan kolonial belanda hanya sanggup mengisi otak saja akan tetapi
jiwa dibiarkan kosong.
Daftar Pustaka
Hakiem, Lukman. Biografi Mohamad Natsir
Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2019.
Natsir, Mohamad. Capita Selecta.
Jakarta: Sumur Bandung, 1961.
Wahab, Aco. "Konsep Pendidikan Islam M.
Natsir." Jejaki Islam untuk Bangsa, 2019.

Komentar
Posting Komentar