Kesatuan Irisan Tauhidullah Dan Worldview Of Islam
Sumber
gambar : Persis.or.id
“All the diversity, wealth and
history, culture and learning , wisdom and civilization of islam is compress in
this shortest of sentences- La
Ilaha Ilaa Allah (There is no god but God)” Ujar Ismail Raji Al Faruqi dalam
karya monumentalnya,Al Tawhid its implication for thought and life
Doktor Indiana
University ini menjelaskan bahwa Semua keragaman, kekayaan dan sejarah, budaya
dan pembelajaran, kebijaksanaan dan peradaban islam terkompresi dalam kalimat terpendek
ini - La Ilaha Ilaa Allah (Tidak ada Tuhan selain Tuhan). Kemudian beliau
melanjutkan dengan mengatakan :
“Al tawhid
is a general view of reality, of truth, of the world, of space and time, of
human history and destiny “ beliau menjelaskan bahwa “Al tawhid adalah
pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah
manusia dan takdir
Worldview dapat
dikatakan sebagai kepercayaan dan pikiran seseorang yang berfungsi sebagai asas
atau motor bagi segala perilaku manusia. Jadi worldview adalah istilah netral
yang dapat diaplikasikan ke dalam berbagai dinominasi agama, kepercayaan, atau
lainnya. Sebab ia adalah faktor dominan dalam diri manusia yang manjadi
penggerak dan landasan bagi aktivitas seluruh kegiatan kehidupan manusia (Zakarsy,H,F,2004)
Menurut al-Maududi
istilah untuk Islamic worldview adalah Islami Nazariyat yaitu pandangan hidup
yang dimulai dari konsep keEsaan Tuhan (syahadad) yang berimplikasi pada
keseluruhan kegiatan manusia di dunia. Sebab shahadad adalah pernyataan moral
yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupan secara menyeluruh.
Sedangkan Menurut
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islamic worldview adalah visi tentang realitas
dan kebenaran, yang terbaca oleh mata hati kita dan yang menerangkan tentang
hakikat wujud yang sesungguhnya, sebab totalitas dunia wujud itulah yang diproyeksikan
Islam. Oleh sebab itu, istilah worldview ini diterjemahkan oleh al-Attas ke
dalam terminologi Islam (bahasa Arab) sebagai Ru’yat al-Islam li al-Wujud yang
berarti pandangan Islam terhadap hakikat dan kebenaran tentang alam semesta.
Dari pengertian
worlview diatas dapat disimpulkan worldview of islam adalah pandangan hidup
yang bernapaskan islam dimana kaidah islam dijadikan sebagai basis pemikiran,
basis aqidah dan cara pandang terhadap perilaku umat muslim.
Menurut Thomas,
pemikir barat , yang dikutip oleh Hamid Zakarsy, dalam worldview islam dan
kapitalisme barat, suatu pandangan hidup ditentukan oleh pemahaman individu
terhadap enam bidang pembahasan yaitu: 1) Tuhan, 2) Ilmu, 3) Realitas, 4) Diri,
5) Etika, dan 6) Masyarakat. Seperti disebutkan di atas bagi Thomas
elemen-elemen pandangan hidup di atas merupakan suatu sistem yang integral, di
mana antara satu konsep berkaitan dengan konsep yang lain secara sistemik. Hal
ini dapat disimak dari pernyataan Thomas berikut ini:
“It (belief in God’s existence) is very important, perhaps the most
important element in any worldview. First if we do believe that God exists,
then we are more likely to believe that there is a plan and a meaning of life,
……if we are consistent, we will also believe that the source of moral value is
not just human convention but divine will and that God is the highest value.
Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is
observable and that that there is a higher reality – the supernatural world. …
if on the other hand, we believe that there is no God and that there is just
this one world, what would we then be likely to believe about the meaning of
life, the nature of ourselves, and after life, the origin of moral standards,
freedom and responsibility and so on.”
Beberapa pengertian
diatas tentang worldview of islam dan tauhidullah terlihatlah, bahwa mereka
berdua merupakan satu irisan atau satu kesatuan, dimana ketika seorang hamba
bertauhid pada allah, maka dia otomatis bepandangan hidup atas dasar untuk apa
seorang hamba diciptakan, apa tujuan penciptaanya dan bagaimana seharusnya dia
berperilaku setelah penciptaan, sehingga manusia dapat menjadi khalifa dibumi (Al-Baqarah:30)
dengan terbaik, baik secara sosial, peradaban, sejarah, budaya dan pengetahuan.
Syekh Yusuf
Al-Qaradhawi dalam kitab al-Ibadah fi al-Islam pun mengingatkan,
bahwa sejatinya, sepanjang sejarahnya, bagaimana manusia menjalani kehidupan
ini sangat tergantung bagaimana ia menjawab tiga pertanyaan berikut; 1. Siapa
saya? Yang berimplikasi pada pertanyaan berikutnya; saya diciptakan atau tidak?
Siapa yang menciptakan? terdiri atas apa saya? Dst. 2. Akan kemana saya? Dan
berimplikasi pada pertanyaan; apa ada kehidupan setelah kematian? Adakah
pertanggungjawaban? 3. Mengapa saya diciptakan? Mengapa berbeda dengan
makhluk-makhluk lain? Untuk makan minum saja kah? Untuk main-main? Atau untuk
apa, dan bagaimana mesti menjalaninya?
Seorang hamba yang
memiliki tauhidullah dan hubungan dengan allah yang baik maka hubungan dia
dengan sesama manusia , hubungan dia dengan alam akan baik pula maka akan
terjadi keseimbangan alam/ keseimbangan kehidupan. Tapi jika seorang hamba
memiliki hubungan yang kurang baik dengan allah maka hubungan dia dengan alam
dan sesama manusia akan buruk .
Tentu kita masih
ingat cerita seorang remaja Amerika suatu hari seorang remaja Amerika suatu
hari keluar rumah untuk jalan-jalan bersama tiga orang kawannya. Sewaktu
pamitan, ibunya berpesan: “Semoga Tuhan bersama kalian”. Anaknya dengan ringan
menjawab: “Tuhan boleh ikut asal mau di bagasi”. Dalam perjalanan, mobil yang
dinaiki anaknya mengalami kecelakaan hebat. Anak remaja itu meninggal dunia,
mobilnya hancur, tapi bagasinya masih utuh.
Hamid zakarsy dalam
tulisanya, Jurnal Islamia Vol. IX No. 1 tahun 2014, mengatakan peristiwa
tersebut merupakan kisah metaforis. Maksudnya, jika “menaruh” tuhan di bagasi
saja telah membawa maut, maka membuang “tuhan” dari fikiran, sekolahan, lembaga
pendidikan dan masyarakat juga akan membawa kematian peradaban.Dari peristiwa
tersebut kita dapat menemukan bahwa remaja tersebut tidak memiliki konsep
tauhid tidak memasukan konsep Tuhan pada cara pandang hidupnya
Daftar Pustaka
faruqi, Ismail Raji Al. Al Tawhid : Its Implication
for thought of life. Virginia: International Institute of Islamic Thought,
1982.
NaquibAl-Attas, Muhammad. Prolegomena to
the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the
Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. “Islam Sebagai
Pandangan Hidup”. Jakarta: Tim KB Press, 2004.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. Tuhan dalam Teori.
Inpasonline, 2014.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. "Worldview Islam
dan Kapitalisme Barat." Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor
Indonesia, April 2013: Vol. 9, No. 1.

Komentar
Posting Komentar