Membendung Tuduhan Orientalis: Benarkah Al Quran Rekayasa Nabi Muhamad SAW ?
Tuduhan yang dilakukan para orientalis gencar di gaungkan terhadap wahyu
yang diturunkan kepada Nabi Muhamad Saw. Mereka mengatakan bahwa Al Quran
merupakan produk budaya dan sejarah rekaan sang nabi untuk menghilangkan
paganisme di jazirah arab. Para musuh islam ini mengemukakan bahwa Muhamad Saw
terus merenung berpikir sampai terbentuk di dalam benaknya, secara berangsur
angsur, suatu aqidah yang dipandangnya cukup untuk menghancurkan paganisme. Ada
pula yang mengatakan muhamad saw orang yang berpenyakit syaraf dan ayan sampai menuduh
beliau mempelajari al- Quran dan prinsip-prinsip islam pada pendeta Bahira,
mantan yahudi yang menjadi rahib Kristen Nestorian yang melihat tanda tanda
kenabian Muhamad.
Para orientalis
melancarkan serangan pada konsep kewahyuan nabi muhamad dengan menolak
kebenaran wahyu, dan membiaskanya dengan ilham (Inpirasi), karena mereka
menyadari bahwa kewahyuan nabi muhamad saw merupakan asas fundamental keimanan
kaum muslimin terhadap apa yang di bawa oleh nabi Muhamad Saw dari Allah Swt,
jika akar dari fundamental umat islam sudah di biaskan, maka pemikiran para
pengikut ajaran nabi muhamad akan mudah untuk menolak segala risalah yang
dibawa oleh manusia pilihan allah, Nabi Muhamad Saw, dan pada akhirnya semua
kaum muslimin akan terpedaya oleh pemikiran, bahwa al Qur’an merupkan produk
ilmiah sang nabi.
Merujuk pada buku sirah
nabawiyah yang ditulis oleh Muhamad Sa’id Ramadhan Al Buthy (2006) yang
mengatakan cara permulaan wahyu di turunkan, menurut Imam Bukhari dari Aisyah
ra menceritakan :“Wahyu yang diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu
mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar
menyingsing di pagi hari”. Kemudian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk
melakukan khalwat (‘Uzlah). Beliau melakukan khalwat di gua
hira’. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata,”Bacalah.” Beliau
menjawab “Aku tidak dapat membaca.” Rasulullah saw menceritakan lebih lanjut:
Malaikat itu lalu mendekati aku dan memeluku sehingga aku merasa lemah sekali,
kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, “Bacalah” Aku menjawab,”Aku tidak
dapat membaca.” Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tak
berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, “Bacalah” aku
menjawab,”Aku tidak dapat membaca.” Untuk ketiga kalinya ia mendekati aku dan
memeluku hingga aku merasa lemas kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia
berkata lagi, “Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan
…menciptakan manusia dari segumpal darah….” dan seterusnya
Rasulullah saw segera
pulang dalam keadaan gemetar sekujur badanya menemui Khadijah, lalu berkata, “Selimutilah
aku….selimutilah aku” kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa
takutnya. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah,”Hai Khadijah, tahukah
engkau mengapa aku tadi begitu?” lalu beliau menceritakan apa yang baru
dialaminya. Selanjutnya beliau berkata: Aku sesungguhnya khawatir terhadap
diriku (dari gangguan mahluk jin). Siti Khadijah menjawab: “Tidak !
Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Anda kecewa.
Anda seseorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang
susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.”
Beberapa saat kemudian
Khadijah mengajak Rasulullah saw pergi menemui Waraqah bin Naufal, salah
seorang anak paman Siti Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani .
ia dapat menulis dalam huruf ibrani, bahkan pernah menulis bagian- bagian dari
injil dalam bahasa ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan kehilangan
penglihatan. Kepadahnya Khadijah berkata: “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa
yang hendak dikatakan oleh anak lelaki saudaramu (yakni Muhamad saw).” Waraqah
bertanya kepada Muhamad Saw ,” hai anak saudaraku, ada apakah gerangan?”
Rasulullah saw kemudian menciratakan apa yang dilihat dan dialami di dalam gua
hira. Setelah mendengarkan keterangan Rasulullah saw Waraqah berkata,” itu
adalah Malaikat yang pernah diutus Allah kepada Musa. Alangkah bahagianya seandainya
aku masih muda dan perkasa ! alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup
tatkala kamu diusir oleh kaummu! Rasulullah saw bertanya “Apakah mereka akan
mengusir aku?” Waraqah menjawab, “Ya” tak seorang pun yang datang membawa
seperti yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup
dan mengalami hari yang akan kamu hadapi itu, pasti kamu kamu kubantu sekuat
tenagaku.”
Hadist permulaan wahyu
tersebut merupakan asas yang menentukan semua hakikat agama dengan segala
keyakinan dan syariatnya. Memahami dan meyakini kebenaranya merupakan
persyaratan mutlak untuk meyakini semua berita gaib dan masalah syariat yang di
bawa oleh Nabi saw. Sebab hakikat wahyu ini merupakan satu satunya faktor
pembeda antara manusia yang berfikir dan membuat syariat dengan akalnya
sendiri, dan manusia yang hanya menyampaikan (syariat) dari Rabb-Nya tanpa
mengubah, mengurangi atau menambah.
Jika sang nabi saw di
anggap merekayasa, sengaja membuat al Quran berdasarkan pemikiran beliau, atas
dasar sejarah, budaya dan politik dimasa itu, maka itu tidak dapat
dipertanggungjawabakan dan hanya berupa pepesan kosong yang keliru karena
menurut firman allah swt dalam surat Al Ankabut : 48
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا
تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
Dan
kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak
(pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah
membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).(Qs Al
Ankabut:48)
Dari
ayat tersebut dikatakan bahwa muhamad saw merupakan orang yang ummi tidak bisa
membaca dan menulis, lalu bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa membaca dan
menulis dapat menghasilkan tulisan tulisan yang luar biasa penuh dengan makna
dan ilmu pengetahuan, bagaimana bisa seorang yang tidak bisa menulis dan
membaca dapat menceritakan, sejarah sejarah yang tertulis dalam kitab al Quran
seperti kisah nabi musa, yusuf, Isa dan lain lain

Komentar
Posting Komentar